Aku benci AHMADIYAH

Kebencian ku terhadap AHMADIYAH (baca: si biang kerok) sudah mencapai klimaks. Terlebih-lebih ketika adanya kejadian di monas pada hari Ahad 1 Juni’08. Pengikut Mirza la’natullah ini seolah-olah telah merasuki semua elemen organisasi sosialis: LSM, LBH; Islam liberal: JIL, JIM; bahkan tokoh gereja katolik pun ikut disertakan. Tanpa kecuali orang Nasionalis mereka sepertinya telah terasuki oleh doktrin-doktrin laten si biang kerok. Masing-masing membawa jargon “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan” yang terbentuklah Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.

Hatiku miris sekali mendengar, membaca dan menyimak berita di media massa. Seolah-olah mereka telah terkukung oleh ISLAM versi MUI. Sehingga si biang kerok harus diselamatkan dari tangan-tangan pereman berjubah (baca: FPI). Bagaimana tidak?, setiap merka berkoar-koar selalu itu-itu saja. Dengan alasan: HAM lah untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan, lalu atas nama Pancasila lah karena kebhinnekaanya.

Itu semua Bull shit! (baca: sialan) ….

Mereka yang menabuh dulu genderang perang, melalui provokasi murahan sehingga menyulut Laskar untuk membungkan nya.

Menurutku seharusnya si biang kerok harus di musnahkan dari muka bumi ini. Iya, kenapa tidak?

Akidah mereka sudah berbeda, maka ada 1 kesimpulan

DARAH AHMADIYAH  HALAL untuk di BUNUH…

Jika setelah 3 hari diminta tobat untuk kembali kepada ajaran ISLAM Kaffah, maka siapkan Algojo khilafah Islamiyah untuk mengeksekusi si laknatullah ‘alaih.

Tapi, apa daya?

Kita tidak hidup dalam naungan-Nya, yang ada justru kebalikan. Sesuatu yang salah karena terorganisir lebih baik mengalahkan kebenaran yang kurang terorganisir dengan baik. Konstitusi negeri ini sudah dikotori oleh tangan-tangan asing sampai-sampai merambah pemerintahannya. Antek-antek (baca: komprador) berwajah “negeri” menghiasi Bhumi allah yang kaya ini, tapi miskin rakyatnya. Semua aset bangsa dijual oleh para komprador kepada tuannya.

Rakyat hanya menikmati sisa tulang-belulang yang bergelimpangan dimana-mana, trus mereka pun harus menukarkanya dengan harga tinggi. Padahal sang Tuan menghisap habis semua aset negeri ini.

KEJAM..!!

Tidak kah rakyat sadar bahwa darah mereka sedang dihisap, tapi mereka harus membayar ganti ruginya?

Tidak kah rakyat sadar bahwa sang Komprador yang merka pilih merupakan “Boneka Vampire”?

Oh tidak, Tuhan…

Tolonglah kami….

Sadarkanlah anak-anak negeri ini!

Bahwa mereka sedang di Dzhalimiy…

Ya, Rabbi…

Terimalah doa kami yang sedang teraniaya ini.

Demi tegak kembali Aturan-aturan-Mu

Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s