Kebenaran Pasti Mengalahkan Kejahatan

Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur (QS Fathir [35]: 10).

Banyak orang merasa silau dengan kekuatan yang dimiliki Amerika Serikat. Jangankan melawan secara fisik, menolak tekanannya pun tak berani. Mereka ngeri berhadapan dengan negara adidaya itu. Besarnya jumlah pasukan beserta aneka persenjataan canggih yang dimiliki Amerika membuat hati mereka merasa kecut. Mereka amat takut diperlakukan seperti Irak dan Afghanistan.

Ketakutan itu sangat tidak beralasan. Sejatinya Amerika tidak sedigdaya seperti yang dibayangkan. Tentara Amerika memang berhasil menumbangkan rezim Saddam Husein. Akan tetapi hingga kini belum bisa menguasai Irak sepenuhnya. Perlawanan sengit oleh mujahidin di Irak membuat tentara Amerika yang tampak gagah perkasa itu kocar-kacir. Padahal perlawanan itu baru dilakukan oleh sebagian kecil kaum Muslim. Andai kaum Muslim bersatu di bawah satu komando, niscaya pasukan kafir itu sudah lama enyah dari sana.

Sesungguhnya kekuatan dan kemulian adalah milik Allah Swt. Dengan kekuasaan-Nya, Dia mampu menolong hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Tak ada kesulitan sedikit pun bagi-Nya untuk menggagalkan semua rencana jahat kaum kafir. Bahkan mereka akan ditimpa azab-Nya yang amat pedih. Banyak ayat al-Quran menegaskan demikian. Di antaranya adalah QS Fathir [35]: 10.

Kemuliaan Hanya Milik Allah Swt

Allah Swt berfirman: Man kâna yurîdu al-‘izzah faliLlâh al-‘izzah jamîa[n] (barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya). Ayat ini diawali dengan ism al-syarth (kata yang menunjukkan syarat), yaitu kata man. Sebagaimana dituturkan al-Syaukani, kata ini bersifat umum, mencakup siapa saja yang menghendaki ‘izzah. Keumuman itu tidak dikhususkan kepada suatu individu atau kelompok tertentu.

Ibnu Manzhur dalam Lisân al-‘Arab memaparkan, pada asalnya kata al-‘izzah bermakna al-quwwah wa al-syiddah wa al-ghalabah (kekuatan, kekokohan, kekuasaan). Menurut al-Alusi, al-‘izzah dalam ayat ini bermakna al-syaraf wa al-man’ah (kemuliaan dan kekuasaan). Sedangkan lâm al-ta’rîf pada kata al-‘izzah memberikan makna umum. Artinya, semua kekuatan, kekuasaan, atau kemuliaan. Keumumannya itu kian dikukuhkan dengan kata jamîa[n] (semuanya). Artinya, semua ‘izzah, baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam ayat ini ditegaskan, bahwa semua ‘izzah itu hanya milik Allah Swt. Selain ayat ini, penegasan yang sama juga disampaikan dalam firman Allah Swt: Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya al-‘izzah (kekuasaan) itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah (TQS Yunus [10]: 65). Juga dalam QS al-Nisa’ [4]: 139.

Karena hanya milik Allah Swt, maka siapa pun yang ingin memperoleh al-‘izzah, dia harus memintanya kepada-Nya. Apabila meminta atau mencari kepada selain-Nya, tentu tidak akan pernah mendapatkannya. Itulah yang dialami oleh kaum kafir yang berharap ‘izzah dari sesembahan mereka. Allah Swt berfirman: Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak (TQS Mayam [19]: 82). Juga, kaum munafik yang menyangka ‘izzah dimiliki oleh kaum kafir (lihat QS al-Nisa’ [4]: 139). Harapan mereka semua akan berakhir dengan kekecewaan.

Sebagai Pemilik al-‘izzah, Allah Swt berhak memberikan ‘izzah-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki. Dia pula yang berkuasa menimpakan kehinaan kepada siapa pun yang dikehendaki (lihat QS Ali Imran [3]: 26). Hanya saja, yang secara eksplisit dijelaskan mendapatkan al-‘izzah dari-Nya adalah Rasul dan kaum Mukmin. Allah Swt: Padahal al-‘izzah (kekuatan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui (QS al-Munafiqun [63]: 8).

Itu berarti, ayat ini memberikan pengertian bahwa siapa pun yang menghendaki al-‘izzah di dunia dan akhirat, maka dia harus taat kepada Allah Swt. Demikian penjelasan Ibnu Katsir, al-Khazin, Ibnu ‘Athiyah, al-Sa’di, dan al-Jazairi dalam kitab tafsir mereka. Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh Qatadah sebagaimana dikutip al-Thabari dalam tafsirnya.

Setelah itu Allah Swt memastikan bahwa semua bentuk ketaatan itu akan sampai kepada-Nya. Allah Swt berfirman: ilayhi yash’adu al-kalim al-thayyib (kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik). Menurut al-Baghawi dan al-Wahidi, yang dimaksud dengan al-kalim al-thayyib adalah kalimat lâ ilâha illaLlâh. Ibnu Katsir memaknainya sebagai dzikir, tilawah, dan doa. Dalam pandangan Abu Hayyan al-Andalusi, kalimat tersebut adalah tauhid, tahmid, dzikrullah, dan semacamnya.

Penafsiran lebih luas diberiken oleh al-Razi dan al-Alusi. Menurut mereka, kalimat thayyibah itu meliputi setiap ucapan yang mengingat Allah Swt atau karena Allah Swt, seperti nasihat atau ilmu. Al-Syaukani juga berpendapat, al-kalim al-thayyib meliputi semua perkataan yang terkatagori sebagai perkataan yang thayyib, baik dzikir kepada Allah, amar ma’ruf, nahi munkar, tilawah, dan sebagainya. Tidak dikhususkan hanya kalimat tauhîd, tahmîd, atau tamjîd. Tampaknya, penafsiran terakhir lebih mencakup kandungan makna ayat ini. Bahwa semua ketaatan qawliyyah itu akan diterima oleh-Nya.

Demikian juga dengan ketaatan fi’liyyah. Allah Swt berfirman: wa al-‘amal al-shâlihu yarfa’uhu (dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya). Al-Shabuni menyatakan, amal saleh adalah menunaikan kewajiban, meninggalkan kemaksiatan, dan mengerjakan kebaikan. Atau dengan kata lain, setiap amal yang sesuai dengan ketentuan hukum syara’. Dan itu dikerjakan oleh pelakunya dengan landasan ikhlas karena Allah Swt. Sebagaimana ketaatan qawliyyah, semua ketaatan fi’liyyah itu juga akan dinaikkan ke hadhirat-Nya.

Dengan penegasan tersebut, maka tidak boleh ada keraguan bagi orang yang menghendaki kemuliaan, kekuatan, atau kekuasaan. Dia harus menjalankan semua bentuk ketaatan terhadap-Nya, baik dalam qawliyyah maupun fi’liyyah. Allah Swt tidak akan menyia-nyiakannya. Semua bentuk ketaatan itu akan diterima oleh-Nya dan pelakunya akan dianugerahi kemulian, kekuatan, dan kekuasaan.

Rencana Jahat Pasti Gagal

Nasib sebaliknya dialami kaum yang jahat. Allah Swt berfirman: Wa al-ladzîna yamkurûna al-syay’ât lahum adzâb syadîd (dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras). Menurut al-Syaukani, secara bahasa kata al-makr berarti al-khadî’ah wa al-ihtiyâl (penipuan, siasat licik). Diberitakan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang merancang kejahatan itu diancam dengan hukuman yang amat berat. Yakni azab yang pedih.

Tak hanya itu, rancangan kejahatan itu dipastikan akan menemui kegagalan. Allah Swt berfirman: Wa makru ulâika huwa yabûr (dan rencana jahat mereka akan hancur). Kata ulâika merujuk kepada makar jahat yang mereka rancang. Sedangkan kata yabûr berarti gagal, rusak, dan tidak bermanfaat sama sekali. Itu berarti, rencana jahat yang telah disusun, betapa pun hebat, rinci, dan rapi, pasti akan mengalami kegagalan.

Kegagalan rencana jahat itu juga disampaikan dalam beberapa ayat lainya, seperti firman Allah Swt: Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (TQS al-Anfal [8]: 30). Juga QS Ali Imran [3]: 54.

Tidak hanya gagal, rencana jahat itu justru akan berbalik menghantam diri mereka sendiri. Allah Swt berfirman: Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya (TQS al-An’am [6]: 123).

Tak Boleh Takut

Bertolak dari uraian di atas, kaum Muslim tidak boleh merasa takut terhadap kaum kafir. Jika mereka berpegang teguh dengan agama-Nya dan berjuang untuk menegakkannya, niscaya Allah Swt akan memberikan pertolongan-Nya (lihat QS Muhammad [47]: 7, al-Mukmin [40]: 51). Tatkala Allah Swt memberikan pertolongan-Nya, tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan mereka. Allah Swt berfirman: Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? (TQS Ali Imran [3]: 160).

Amat banyak realitas yang telah menjadi bukti kebenaran janji ini. Kemenangan gemilang yang diraih kaum Muslim atas kaum kafir tak terlepas dari faktor ini. Ketika berhadapan dengan kaum kafir di Badar yang jumlahnya jauh lebih besar, Allah memberikan pertolongan terhadap kaum Muslim (lihat QS Ali Imran [3]: 123). Demikian juga pada Perang Khandaq. Pasukan kafir yang terdiri dari berbagai kabilah dan berjumlah 10.000 hendak menggempur kota Madinah yang dijaga 3.000 tentara Islam. Dalam situasi genting ini, Allah Swt mengirimkan angin topan dan tentara malaikat sehingga pasukan multikabilah itu harus pulang dengan menanggung kekalahan (lihat QS QS al-Ahzab [33]: 9). Kejadian amat dramatis juga terjadi pada Perang Mu’tah. Jumlah tentara Islam hanya berjumlah 3.000 bertempur dengan pasukan Romawi yang berjumlah 200.000! Dengan jumlah sangat tidak seimbang itu, umat Islam berhasil memukul mundur pasukan kafir. Masih banyak fakta lain yang menjadi bukti kebenaran janji Allah Swt.

Walhasil, tidak ada alasan bagi kaum Muslim merasa takut terhadap kaum kafir. Jika mereka membawa kebenaran, maka akan melenyapkan kebatilan (lihat QS al-Isra’ [17]: 81). Yakinlah!

WaLlâh a’lam bi al-shawâb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s