Mengapa Ahmadiyah Harus Dibubarkan?

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Muqaddimah

Kaum muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah atas izin dan perkenan Allah SWT kita bisa berkumpul di masjid yang mulia ini untuk melaksanakan salah satu tugas kita sebagai hamba Allah yakni menjalankan ibadah shalat Jum’at. Semoga kehadiran kita dengan niatan yang ikhlas dan suci ini dikabul oleh Allah SWT sebagai amal shalih yang diridlai-Nya. Amin!.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Setelah Bakorpakem mengumumkan hasil pemantauan para peneliti Balitbang Depag bahwa kelompok Ahmadiyah menyimpang dari ajaran pokok Islam, ternyata kelompok Ahmadiyah berserta para pembelanya dari kalangan sekuler dan liberal melakukan perlawanan.

Bahkan di berbagai stasiun TV para pimpinan Ahmadiyah yang merasa mendapat angin dari kaum sekuler itu dengan sangat arogan menyalahkan keputusan Bakorpakem dan meremehkan fatwa MUI. Mereka kini secara terang-terangan mengingkari apa yang tercantum dalam 12 butir, khususnya butir yang menyatakan mereka tidak lagi menyebutkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, tapi hanya sebagai guru, mursyid, dan mujadid dan ini poin andalan Bakorpakem untuk membimbing Ahmadiyah kembali ke jalan yang benar. Kini mereka dengan terang-terangan dan arogan mengatakan bahwa mereka meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Waktu di-cross chek dengan pernyataan dua belas butir mereka, pimpinan Ahmadiyah mengatakan bahwa itu bukan murni pernyataan Ahmadiyah tapi hasil “tekanan” dari Balitbang Depag.

Dengan demikian pupus sudah harapan Depag dan Bakorpakem mempertahankan mereka tetap dalam komunitas Islam. Sebab, poin penting yang membuat seseorang atau sekelompok orang jatuh dalam kemurtadan tetap mereka pegang, yakni mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Anehnya, sekalipun nyata-nyata murtad dengan poin tersebut, mereka ngotot bahwa mereka tetap Muslim dan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Mereka mengatakan bahwa perbedaan mereka dengan umat Islam tentang hal itu cuma khilafiyah, beda penafsiran. Oleh karena itu, mereka merasa tidak merusak aqidah Islam bahkan mereka mengklaim bahwa mereka lurus dalam mendakwahkan Islam.

Mereka menyatakan bahwa mereka membenarkan dan mempercayai pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dengan dasar firman Allah:

Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka. Itulah teman yang sebaik-baiknya.

Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup Mengetahui.(QS. An Nisa 69).

Juru bicara Ahmadiyah mengartikan ayat di atas bahwa siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya akan menjadi salah satu dari yang empat, yaitu bisa menjadi nabi, bisa menjadi shiddiqin, syuhada, atau shalihin. Dan Jemaat Ahmadiyah, tambahnya meyakini pendakwahan dari Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai nabi.

Tentu saja pemaknaan dan “penafsiran” yang dilakukan tokoh Ahmadiyah di atas jelas batil, aneh dan mengada-ada. Sebab, Rasulullah SAW sendiri sebagai nabi yang diutus dengan mambawa Al Quran tersebut menyatakan bahwa beliau adalah sebagai penutup para nabi dan tidak ada nabi lagi setelah beliau (lihat HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, Bukhari).

Juga ketika ada sejumlah orang yang hidup di masa Rasulullah SAW mengaku sebagai seorang nabi dan rasul selain beliau, seperti Musailamah, beliau SAW menggelari Musailamah sebagai tukang bohong (al kaddzab). Rasulullah SAW tidak membenarkan pengakuan Musailamah pada waktu itu. Seandainya Rasulullah memaknai ayat di atas seperti orang-orang Ahmadiyah, tentulah Rasulullah SAW membenarkan pengakuan Musailamah.

Bahkan Rasulullah SAW menghukumi para pengikut Musailamah sebagai orang murtad yang layak dihukum mati jika tidak mau bertobat. Dan di masa Khalifah Abu Bakar Shiddiq ra dilakukan pembersihan besar-besaran di Jazirah Arab terhadap orang-orang murtad, yakni para nbi palsu dan puluhan ribu pengikutnya yang bersekutu dengan kaum Arab yang menolak membayar zakat, yang murtad karena mengingkari salah satu rukun Islam. Khalifah mengirim 11 divisi pasukan bersenjata untuk memberikan ultimatum kepada mereka. Mereka diminta bertobat, agar kembali kepada Islam, ruju’ ilal haq. Yang menolak diperangi. Alhamdulillah dengan ketegasan sikap Khalifah, akhirnya masalah kaum murtad bisa diatasi Sebagian mereka tewas, dan sebagian besar lainnya kembali kepada jalan yang benar. Allahu Akbar!

Kaum muslimin rahimakumullah,

Dalam “Apel Siaga Umat untuk Bubarkan Ahmadiyah” di depan Istana pada hari Ahad, 20 April lalu, para ulama dan tokoh-tokoh pimpinan ormas-ormas Islam telah menyampaikan harapan kita umat Islam agar pemerintah/presiden bertindak tegas melarang keberadaan organisasi perusak dan pemalsu aqidah Islam yang bernama Ahmadiyah. Agar presiden tidak ragu-ragu melaksanakan kewenangannya berdasarkan PNPS Nomor 1 Tahun 1965 tentang pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. Dan para ulama yang juga menjadi pengurus MUI pusat mengingatkan Presiden SBY bahwa beliau secara terbuka telah menyatakan di hadapan para alim ulama peserta rakernas MUI tahun lalu bahwa beliau akan merujuk kepada fatwa MUI. Sehingga beliau tidak perlu terpengaruh oleh suara-suara kaum kafirin, munafiqin, dan murtaddiin di dalam melindungi aqidah umat Islam yang wajib dia lindungi sebagai pemimpin Muslim.

Oleh karena itu, dengan tetap bertawakkal kepada Allah SWT kita tunggu pengumuman dari Presiden SBY tentang Keppres yang melarang ajaran Ahmadiyah yang sesat dan menyesatkan serta membubarkan organisasi Ahmadiyah yang memalsukan agama Islam, kumpulan kaum murtad dan memurtadkan.

Dan kita perlu waspada terhadap provokasi dari siapapun yang membela Ahmadiyah. Sebab, hakikatnya mereka hendak memadamkan cahaya agama Allah dan hendak menutupinya dengan faham-faham sesat seperti Ahmadiyah. Akhirnya marilah kita renungkan firman Allah SWT :

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.(QS. At Taubah 32).

Source: www.suara-islam.com

2 thoughts on “Mengapa Ahmadiyah Harus Dibubarkan?”

  1. kalo ahmadiyah yang saya tahu dari guru agama sudah ada sejak negara ini merdeka. sudah banyak juga yang ingin agar ahmadiyah dibubarkan. tapi sampai sekarang ahmadiyah masih tetep ada tuh

  2. kalau ahmadiyah yang saya tahu sudah ada sejak negara ini merdeka. sudah banyak juga yang ingin agar ahmadiyah dibubarkan, tapi sampai sekarang masih tetap ada tuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s