Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS

 

oleh: Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI

 

 

Kerja keras Obama beserta “tim” di belakangnya akhirnya membuahkan hasil sebagai presiden terpilih AS untuk periode 2009-2012. Sambutan hangat atas terpilihnya warga kulit hitam pertama tersebut tidak hanya di Amerika, juga di seluruh dunia. Mereka berekspektasi akan “perubahan” (change) yang dijanjikan Obama dalam kampanye.

Tak kurang Presiden SBY mengucapkan selamat kepada Obama. SBY mengharapkan presiden baru tersebut dapat menciptakan perubahan dengan membawa dunia keluar dari krisis keuangan global.

Jubir Kepresidenan Andi Malaranggeng menyatakan kebanggaannya dengan terpilihnya Obama. Sebab Andi merasakan Partai Demokratnya memiliki kesamaan visi dengan Partai Demokrat yang mengusung Obama.

Warga AS pada umumnya memandang terpilihnya Obama sebagai kemenangan atas rasialisme, karena merupakan presiden kulit hitam pertama Amerika. Obama dianggap sosok yang mewakili kultur Afrika, Amerika, dan Asia (masa kanak-kanaknya di Indonesia) sehingga ada juga yang melihatnya presiden bagi seluruh dunia.

Meneruskan War on Terror

Topik kampanye “perubahan” yang diusung Obama mampu “menyihir” rakyat AS yang tidak suka dengan politik luar negeri (pologri) barbar Presiden Bush. Kebijakan barbar Bush yang suka melakukan pertumpahan darah, menjatuhkan kredibilitas AS di mata dunia, dan menyebabkan krisis ekonomi di dalam negeri.

Berbeda dengan rivalnya John McCain yang meneruskan pologri Bush, Obama menyatakan jika terpilih akan segera menarik pasukan AS dari Irak. Kampanye ini berhasil membentuk perspesi bahwa Obama anti perang.

Rakyat AS seolah-olah lupa, bahwa Obama tidak menarik pasukan dari Irak begitu saja. Visi Obama tetap menjalankan politik war on terror atas dunia Islam, sebagaimana kritik yang disampaikannya kepada Bush pada September 2008. Obama menekankan jika terpilih menjadi Presiden, ia akan menarik pasukan AS di Irak dan menambah kekuatan militer di Afghanistan.

Ketika mengunjungi Afganistan Juli 2008 Obama menyatakan politik perang melawan terorisme tetap dijalankan. Jubir Kepresidenan Afghanistan, Humayun Hamidzada mengatakan: “Senator Mr Obama menyampaikan … bahwa ia berkomitmen mendukung Afghanistan dan melanjutkan perang melawan terorisme.” (Press.net 20/7/08).

Visi war on terror yang diemban Obama adalah bukti agenda Obama ketika menjadi Presiden meneruskan pologri imperialisme AS. Visi ini sama dengan visi Bush, perbedaanya hanyalah cara (uslub) merealisasikannya.

Loyalis Yahudi

Untuk menjadi presiden AS, Obama berkali-kali meyakinkan publik Yahudi bahwa politiknya tetap pro Israel. Pada Juni 2008, di hadapan kelompok lobbi pro Israel, American Israel Pubblic Affairs Committee (AIPAC), Obama menyatakan bahwa Jerusalem akan tetap menjadi ibukota Israel dan begitulah seharusnya.

Dalam kunjungan ke Israel pada Juli 2008, Obama mengulang kembali dukungan penuhnya untuk Israel. Ia berkomitmen dalam menjaga keamanan Israel khususnya dari ancaman Iran. Obama memandang nuklir Iran sebagai ancaman dan Iran harus dicegah dalam kepemilikan senjata nuklir. Padahal bukan rahasia umum lagi Israel-lah yang memiliki ratusan senjata nuklir dan Israel pula yang menjadi sumber ancaman dunia khususnya di Timur Tengah.

Pembelaan Obama terhadap zionis oleh Obama adalah wajar. Sebab ia terpilih menjadi senator dan kemudian presiden berkat dukungan kelompok Yahudi. Ketika pertama kali meluncurkan kampanye sebagai kandidat presiden Partai Demokrat tahun 2006, ia mendapatkan dukungan dana dari Alan Solomont pilantrofis Yahudi Boston. Pidato kebijakan luar negeri pertamanya juga dilakukan di AIPAC (Ron Kampeas, The 2008 Election: Obama and Jews).

Babak Baru Imperialisme AS

Banyak orang di seluruh dunia termasuk Indonesia berharap Obama dapat mengubah wajah Amerika yang “jahat” menjadi “baik hati”. Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan: Ini memang menantang dan menarik karena ada sesuatu yang baru. Tetapi, dunia cuma bisa berharap, Obama akan menghadirkan tata dunia baru yang tidak lagi berbasis pada hegemoni arogan negara yang bernama AS ini”. Presiden SBY juga berharap. SBY mengatakan: “Mudah-mudahan ini babak baru bagi hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat yang lebih baik dan membawa kebaikan secara adil bagi kedua bangsa”.

Perubahan kepemimpinan di AS dari Bush ke Obama harus dilihat sebagai pergantian kepemimpinan yang biasa terjadi. Tidak ada keistimewaannya, meskipun sang Presiden terpilih mengusung tema “perubahan”. Sebab tidak akan ada yang berubah dari negara kapitalis AS hanya karena sosok Obama, apalagi tema ”perubahan” yang diusung Obama tidak jelas definisinya kecuali ”perubahan” sebatas jargon dan janji. Yakni janji-janji terhadap rakyat akan kehidupan yang lebih baik secara materi. Tepat sekali pernyataan yang dilontarkan oleh Taji Mustafa (perwakilan media Hizbut Tahrir Inggris): America is not one man. America is its institutions”.

Amerika merupakan negara kapitalis yang fikrah dasarnya adalah sekularisme. Untuk mengimplimentasikan fikrah-nya, AS menempuh imperialisme sebagai metode (thariqah). Penjajahan menjadi metode baku AS di dalam menancapkan hegemoni politik, militer, ekonomi, dan budaya ke seluruh dunia. Fikrah dan thariqah AS tidak akan pernah berubah sepanjang Kapitalisme menjadi sistem bagi negara tersebut (Taqiyuddin an-Nabhani, Konsepsi Politik Hizbut Tahrir).

Sebagai penerus estafet kepemimpinan AS, setiap kebijakan dan keputusan Obama senantiasa terikat dengan fikrah dan thariqah Kapitalisme. Adapun perubahan kebijakan yang akan diambil Obama dari pemerintahan sebelumnya, semata-mata karena tuntutan situasi dan kondisi saja. Hakikatnya, Obama bukanlah penguasa sebenarnya melainkan para pemilik modal yang mengatur dan mempengaruhi kebijakan AS baik ke dalam maupun ke luar.

Rencana Bailout Pemerintah AS dengan biaya total US$ 2,7 trilyun (jumlahnya akan terus bertambah):

TARP

$700 milyar

Bear Stearns

$29 milyar

Detroit Big Three

$25 milyar

AIG

$150milyar

Fannie and Freddie

$200milyar

Mortgage-backed secs.

$144milyar

FHA Rescue bill

$300milyar

JPM for Lehman

$87 milyar

Fed’s TAF program

$200milyar

Commercial paper

$50 milyar

Fed currency swaps

$740milyar

Sumber: Martin D. Weiss,Washington is Panicking Again!

Di sisi lain, situasi kelam yang mengancam Amerika saat ini, mengharuskan Obama berbuat lebih banyak dan lebih ”canggih” (bersiasat) untuk menyelamatkan negaranya dari kehancuran. Jika pada saat Depresi Besar 1929 rasio hutang AS mencapai 150%-160% PDB, kini rasionya membengkak menjadi 350%. Sebuah angka yang sangat buruk bagi negara yang menyandang gelar adidaya. Sebab, bukan pada tempatnya negara adidaya hutang-hutangnya jauh lebih besar daripada kekayaan total negaranya sendiri.

Tidak ada negara yang perkembangan hutangnya ”sehebat” Amerika. Dalam satu tahun terakhir, hutang pemerintah federal bertambah 11,29% dengan kuantitas yang sangat besar. Dari US$ 9,007 trilyun per 30/9/2007 menjadi US$ 10,024 trilyun per 30/9/2008. Peningkatan hutang sebesar US$ 1,017 trilyun setara dengan 11 kali lipat APBN Indonesia 2008.

Hutang pemerintah AS diyakini akan terus membesar baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Tahun ini saja biaya bailout yang dikeluarkan pemerintah AS sudah membengkak US$ 2,7 trilyun. Langkah pemerintahan Bush mensubsidi korporasi keuangan swasta Amerika akan dilanjutkan oleh pemerintahan Obama. Obama tentu tidak akan ambil diam menyaksikan kebangkrutan sistem keuangan Amerika, apalagi kalangan korporasi dan pemilik modal yang mendukung Obama menjadi presiden pasti meminta balas budi.

Mengandalkan kekuatan ekonomi dalam negeri untuk menyelamatkan negaranya sudah tidak mungkin. Setiap tahun AS mengalami defisit perdagangan yang cukup besar. Tahun 2007 defisit perdagangan AS mencapai US$ 700 milyar. Industri AS juga sudah memasuki masa suram. Pada September 2008 produksi menurun 2,8% dengan kapasitas yang termanfaatkan hanya 76,4% dari kemampuan produksi. Jumlah pengangguran juga bertambah 1% hanya dalam 6 bulan. Pada bulan Mei 2008 tingkat pengangguran mencapai 5,5%, Oktober meningkat menjadi 6,5%. Pada Oktober 240 ribu warga AS kehilangan pekerjaan sebagai dampak langsung dari krisis keuangan.

Kondisi ini dapat mendorong Amerika untuk mencari sumber-sumber pemasukan dari luar negeri secara lebih siknifikan. Tetapi titik tekannya bukan dengan jalan meningkatkan pendapatan ekspor, melainkan dengan cara menguasai aset-aset bernilai di negara-negara lain.

Kemungkinan AS akan menjalankan strategi-strategi penjajahan yang ditekankankan pada aspek ekonomi di satu sisi, dan aspek politik di sisi lain. Dengan tujuan utama menguasai aset-aset bernilai suatu negara. Tentara AS di Irak akan dikurangi, tetapi tidak dilepaskan begitu saja. Bahkan AS menambah kekuatan militernya di Afghanistan dan perbatasan Pakistan. Di samping menghancurkan kekuatan Islam yang berkembang di sana, AS juga ingin memastikan sumber daya alam minyak dan gas bumi di Asia Tengah dapat dialirkan untuk kepentingan korporasi Amerika.

Boleh jadi Amerika di bawah Obama menampilkan wajah yang lebih soft ketimbang era Bush yang sarat dengan peperangan barbar, sehingga dalam hubungan dunia internasional AS lebih mudah diterima. Namun pologri yang menekankan pendekatan politis dan ekonomis ini dapat memposisikan watak imperialismenya secara tidak nyata (susah dilihat oleh orang awam dan negara yang tidak memiliki kepekaan politik dan pegangan ideologi). Pendekatan ini akan sangat membantu AS dalam menjebak negara-negara lain jatuh ke dalam genggamannya sehingga mudah didikte, diatur, dan dirampok kekayaannya.

Meskipun kemampuan Amerika dalam memberikan pinjaman jauh menurun, Amerika akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk dapat memberikan hutang bagi negara lain khususnya dunia ketiga. Karena hutang masih dapat diandalkan sebagai senjata imperialisme, apalagi mayoritas negara-negara berkembang dan miskin juga sangat terpukul oleh krisis finansial.

Indonesia misalnya melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral kelompok 20 (G-20) di Sao Poulo (10/11/2008),mengusulkan pembentukan mekanisme pendanaan khusus untuk mendukung pembangunan negara-negara berkembang dalam mengatasi krisis global. Indonesia memandang krisis finansial menyebabkan negara-negara berkembang kesulitan mendapatkan pendanaan dari penerbitan obligasi pemerintah di pasar modal. Untuk itu, harus ada kompensasinya yaitu adanya fasilitas pinjaman luar negeri yang memadai bagi negara berkembang. Tentu saja langkah Indonesia di forum internasional ini mempermudah pekerjaan Amerika di dalam mewujudkan penjajahan mereka atas dunia.

Kini Amerika sedang menyongsong kepemimpinan Obama di tengah guncangan finansial. Babak baru imperialisme AS akan digulirkan sebagai sarana untuk membiayai kebangkrutan ekonomi dan merebut kembali hegemoni dunia.Wallahu’alam.[]

 

REFERENSI

An-Nabhani, Taqiyuddin. (2006), Konsepsi Politik Hizbut Tahrir (Edisi Mu’tamadah), Penerbit: Hizbut Tahrir Indonesia.

U.S. Department of Labor, www.bls.gov

U.S. Department of Labor, THE EMPLOYMENT SITUATION: OCTOBER 2008,www.bls.gov

Federal Reserve Statistical Release (16/10/2008), Industrial Production and Capacity Utilizationwww.federalreserve.gov

Hizbut Tahrir Britain (5/11/2008), Obama presidency will bring no change in the Muslim worldwww.hizb.org.uk

Kampeas, Ron. (2008), THE 2008 ELECTION: Obama and the Jewswww.illuminati-news.com

Kompas (11/11/2008), Indonesia Diperlakukan Tak Adil, www.kompas.com

Presidensby.info (5/11/2008), Obama Pernah Mengirim Buku untuk SBY,www.presidensby.info

Presidensby.info (5/11/2008), Presiden Sampaikan Selamat Kepada Obama,www.presidensby.info

Press.net (20/7/2008), War on terror will continuepa.press.net

The News (10/9/2008), Obama: PakistanAfghanistan central front in war on terrorismwww.thenews.com.pk

Treasury Direct, Historical Debt Outstanding – Annualwww.treasurydirect.gov

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s