Pelajaran dari Tragedi Gaza

Ketika umat bangkit dan sadar akan adanya pembantaian di Gaza, kita harusnya juga sadar bahwa akar masalahnya adalah kebijakan luar negeri Kapitalis. Kebijakan itulah yang sudah membangun Negara Israel dan dengannya pula Barat mendukung para penguasa Muslim pengkhianat sebagai sebuah cara memastikan bahwa Umat masih tetap dalam dominasi Kapitalisme. Hanya dengan pendirian kembali Khilafah Rasyidah di tanah kaum muslim lah maka hukum Islam bisa dipulihkan dan penduduk di wilayah itu kembali bisa hidup tenang, adil, dan aman.

Pembantaian oleh Israel di Gaza telah mengakibatkan kematian atas lebih dari 1300 orang dan melukai 5000 orang lainnya. Di antara yang meninggal terdapat lebih dari 300 anak-anak. Kehancuran yang diakibatkan oleh 22 hari pengeboman diperkirakan bernilai $ 2 milyar Ketika puing-puing kehancuran masih berasap di Gaza, kisah kekejaman itu terus bermunculan.

Menurut IslamOnline, Israel membunuh seorang anak yang berusia 4 tahun, Shahd, dan lalu terus menembaki keluarganya untuk mencegah mereka mengangkat tubuhnya, yang dimakan oleh sekumpulan anjing. Ketika kakaknya, Matar, dan sepupunya, Mohammed berusaha untuk menghentikan anjing yang memakan tubuhnya, mereka juga dibunuh oleh tentara Israel itu. (Semoga Allah SWT memberikan mereka Surga). Kejadian yang mengerikan ini menangkap esensi tragedi di Palestina.

Palestina: Tragedi yang Berkelanjutan

Kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini menekankan pentingnya penyelesaian isu Palestina. Pembantaian yang terjadi itu merupakan suatu pengingat yang menyakitkan atas banyak pembantaian lain yang telah terjadi yang dilakukan oleh Israel. Contohnya, Israel telah membunuh lebih dari 20.000 orang Palestina dalam rentang waktu 4 bulan ketika mereka membom Libanon tahun 1982. Sebagai perbandingannya, Israel kehilangan 21.182 penduduknya dalam usaha pendirian Negara Israel selama lebih dari 120 tahun (yakni dari tahun 1882 hingga 2002) [1]

Hal ini hanya berkaitan dengan tingkat kematian, belum lagi untuk menggambarkan penderitaan yang dialami sehari hari oleh penduduk yang tinggal di bawah pendudukan Israel, seperti menghadapi penghinaan di titik-titik pemeriksaan dan mengalami kesulitan ekonomi yang berat. Dengan kesedihan yang dalam, kita menyadari bahwa situasi ini telah ada selama lebih dari 60 tahun. Akibatnya, kita harus memeriksa akar konflik dan hanya menganjurkan penyelesaiannya seperti yang diwahyukan oleh Allah SWT.

Islam: Landasan yang Benar untuk Memeriksa Isu ini

Pertama, kita harus sadar bahwa Palestina merupakan persoalam Islam. Palestina menjadi sebuah untaian permata dalam sejarah kaum Muslim sejak Allah SWT mengaitkan Masjid Suci di Mekkah, yakni ketika Allah SWT membawa Rasul-Nya pada malam hari dari Masjid Suci ke Masjidil Al-Aqsa. Allah SWT berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya. [QS 17:1]

Allah SWT telah menjadikan Palestina sebuah negeri yang diberkahi. Dia menghubungkan hati kaum Muslim dengan Baitul Maqdis dengan menjadikannya sebagai kiblat sholat yang pertama.

Akibatnya, cara saru-satunya bagi Umat untuk memandang Palestina adalah melalui perspektif Islam. Kita harus bekerja bersama umat untuk menyangkal seruan para penguasa Arab dan Muslim pertama kali berusaha untuk memberikan bingkai kembali atas isu itu sebagai sebuah isu Arab, kemudian sebagai sebuah isu Palestina, dan sekarang hanya sebagai isu Gaza! Nasionalisme merupakan sebuah ide jahat yang merupakan sumber kehancuran di dalam Umat. Nabi Muhammad SAW mengatakan hal berikut mengenai nasionalisme.

“Tinggalkanlah. Nasionalisme adalah hal yang busuk.“ (HR. Bukhari & Muslim)

Kekuatan kolonial yang tidak dapat diterima, seperti Inggris dan Perancis, sangat bergantung pada nasionalisme untuk menghancurkan Khilafah. Pertama kali mereka menghasut orang-orang Yunani, Serbia dan orang-orang Kristen lainnya yang hidup di bawah Khilafah untuk memberontak melawan Khilafah Utsmaniyah. Mereka lalu menggunakan alat yang sama untuk mendorong perselisihan antara orang Arab dan orang Turki. Ini merupakan satu dari alat-alat utama untuk menghancurkan Khilafah, yang membuka jalan bagi pendirian Israel.

Israel: Sebuah Negara Kapitalis atau Sebuah Negara Yahudi?

Rencana untuk menanam sebuah “unsur asing” di dalam jantung umat Islam telah dicanangkan pada tahun 1907 oleh orang-orang Inggris yang dimuat dalam Campbell-Bannerman Report, yang menyatakan:

“Ada orang-orang (Muslim) yang mengkontrol wilayah yang sangat luas yang penuh dengan sumber-sumber daya tersembunyi. Mereka mendominasi perlintasan rute-rute dunia. Tanah mereka adalah buaian peradaban manusia dan agama-agama. Orang-orang itu memiliki satu keyakinan, satu bahasa, satu sejarah dan aspirasi-aspirasi yang sama. Tidak ada rintangan-rintangan alami yang bisa mengisolasi orang-orang itu satu sama lain… jika, ada kesempatan, bangsa ini bersatu ke dalam satu negara, nasib dunia akan berada di tangannya dan akan memisahkan Eropa dari bagian dunia yang lain. Dengan memandang permasalahan ini secara serius, sebuah unsur asing harus ditanamkan ke dalam hati bangsa itu untuk mencegahnya terpusatnya sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga unsur asing itu akan menghabisi kekuatannya pada perang-perang yang tidak berkesudahan. Unsur asing itu akan bertindak sebagai titik lompat bagi Barat untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkannya.”

Setelah Perang Dunia II, Amerika menggantikan Inggris sebagai Superpower Kapitalis dan bekerja untuk mendominasi dunia. Negeri itu, seperti halnya Inggris, melihat Timur Tengah sebagai sebuah wilayah jajahan. Tahun 1944, Kementrian Luar Negeri Amerika secara terbuka menyatakan bahwa Timur Tengah adalah “suatu sumber daya kekuatan strategis yang menakjubkan, dan satu dari hadian-hadiah material dalam sejarah dunia”. Kebijakan yang dilakukan negeri itu untuk mendapatkan “hadiah” (yang bukan merupakan milik mereka!) termasuk di antaranya dukungan bagi para penguasa pengkhianat dan Israel. Selama kampanye kepresidenan tahun 2008, Obama secara jelas menyatakan bahwa pemerintahannya akan terus melanjutkan dukungannya secara jelas pada Negara kriminal Israel. Dalam pidatonya di depan AIPAC dia mengatakan: “Sebagai Presiden Saya akan menerapkan suatu memorandum kesepahaman yang memberikan bantuan keuangan senilai $30 juta bagi Israel pada dekade mendatang, investasi bagi keamanan Israel yang tidak akan mengikat bagi Negara lain.”

Menyadari bahwa pembentukan Israel adalah sebuah produk kebijakan Kapitalis adalah merupakan hal penting bagi umat. Dengan pemahaman seperti ini, kita menyadari bahwa tujuan keseluruhan dari kebijakan semacam ini adalah untuk mencuri sumber-sumber daya kita, mencegah kesatuan kita, dan memastikan bahwa umat tetap berada di bawah dominasi Barat. Sebaliknya, kegagalan untuk melakukan penyadaran itu akan mengakibatkan ketergantungan kepada Amerika, PBB, Inggris, atau Kanada untuk mendapatkan solusi – daripada menyadari bahwa ideologi yang dibawa Negara-negara itu adalah merupakan sumber permasalahan!

Dengan didapatkannya perspektif ini juga membantu kita untuk memahami secara pasti mengapa kaum muslim dan para penguasa Arab sibuk menyerukan dilakukannya KTT dan gagal untuk membantu kaum muslim di Gaza. Amerika dan Inggris telah membeli para penguasa itu untuk menerapkan kebijakan-kebijakan mereka. Mereka menyadari bahwa para penguasa boneka itu adalah kunci untuk menerapkan kebijakan-kebijakan mereka di wilayah itu. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Asisten Menlu AS untuk Timur Tengah Edward Walker yang bersaksi di depan Komite DPR pada tanggal 29 Maret, 2001:

“…Mubarak memainkan peranan inti di antara orang-orang yang menyerukan perdamaian di wilayah itu dan dia mengutuk secara terbuka seruan untuk melakukan kekerasan terhadap Israel – seruan untuk memerangi Yahudi – dan menggunakan minyak sebagai senjata. Dia menentang boikot ekonomi atas produk-produk Amerika dan baru-baru ini dia mendukung usaha-usaha kami untuk memberikan keseimbangan di Dewan Keamanan…”

Karena itu, Amerika dan kebijakan Eropa untuk membantu Israel hanyalah satu dari banyak cara untuk memastikan bahwa umat tidak menerapkan Islam dan menentang hegemoni atas kekuatan-kekuatan kolonial.

Khilafah: Kunci Pembebasan Palestina

Isu Palestina adalah sesuatu yang dekat dengan hati orang-orang yang beriman di seluruh dunia. Kaum Muslim rindu untuk melihat wilayah itu dibebaskan dari pemerintahan tiran Israel. Agar hal ini bisa terlaksana, umat harus menyingkirkan para penguasa korup itu dan menggantikannya dengan Khilafah Rasyidah. Sebagaimana Rasulullah Saw. telah bersabda:

“Imam adalah perisai, di belakangnya kaum Muslim berperang dan melindungi diri mereka” (HR. Muslim)

Hal ini memerlukan usaha kita untuk bekerja sesuai dengan metode Rasulullah Saw. untuk menegakkan kembali Khilafah. Kita harus bekerja dalam sebuah struktur partai, sebagaimana Allah SWT telah berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ

“Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,” (QS 3:104)

Dalam struktur ini, kita bekerja untuk membina diri kita sebagaimana para sahabat dibina oleh Rasulullah Saw. di rumah al-Arqam ibnu Abi al-Arqam. Tujuan dari usaha ini untuk memastikan bahwa hati dan pikiran kita tidak terisi selain oleh konsep-konsep Islam. Karena itu, kita harus mengevaluasi semua ide dan tindakan yang berdasarkan hukum Allah SWT.

Kita harus berinteraksi dengan umat dengan tujuan untuk mengubah pemikiran dan emosi mereka untuk menjadikan akidah Islam sebagai referensi mereka satu-satunya. Contohnya, kita harus menantang dan mendebat orang-orang yang menyerukan bagi umat untuk mengadopsi hukum internasional (yakni yang berdasarkan sekularisme atau PBB) ketika mencari suatu penyelesaian bagi Palestina, Kashmir, Chechnya, Somalia atau urusan umat lainnnya.

Kita juga harus mencari nushrah – dukungan dari orang-orang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh di negeri-negeri Muslim. Orang-orang tersebut mungkin terperosok dalam alur pikiran Kapitalis, tapi kita harus ingat bahwa Akidah Islam memiliki kekuatan untuk mengubah hati dari orang-orang semacam Umar bin Khattab ra dan para pemimpin Suku Aus dan Khazraj (yakni dua suku yang tinggal di Madinah yang memberikan pertolongan kepada Nabi Muhammad SAW). Kita harus ingat bahwa Umar ra ketika itu sedang ingin membunuh Nabi Muhammad SAW ketika dia menerima Islam dan bahwa Sa’d bin Mu’adh ra dan Usaid bin Hudayr ra sedang merancanakan untuk mengusir kaum Muslim dari tanah mereka. Sebenarnya, Usayd ra ketika dia bertemu dengan Musab, sedang mengancam untuk membunuh Musab jika kaum muslim tidak pergi. Namun, ketika Musab ra menjelaskan Islam kepadanya, diriwayatkan bahwa cahaya kedamaian Islam dapat terlihat pada wajah Usaid ra! Karena itu, kita harus bekerja seperti bekerjanya Musab ra dan menyeru orang-orang saat ini akan kekuatan Islam dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT memang memiliki kekuatan untuk memberikan mereka hidayah, jika Dia menghendaki.

Pada saat Khilafah Rasyidah berdiri lagi di tanah kaum muslim, kita dapat bekerja untuk melawan pendudukan yang diprakarsai oleh kekuatan kolonial dan dilaksanakan oleh Zionis. Hanya pada saat Negara Islam berdirilah, kaum Muslim, Yahudi, Kristen, dan yang lainnya dapat hidup kembali dalam kedamaian, keadilan, dan sentosa – seperti yang telah kita lakukan sebelum Barat menginvasi dan menanamkan entitas asing di tanah kita.

Seruan Dari Gaza

Yang berikut ini adalah sebuah kutipan dari sebuah surat yang dikirimkan oleh Akhwat kita Ummu Taqi dari Gaza selama terjadinya pengeboman:

“Tapi dalam semua kejadian ini, tidak ada yang lain selain Allah SWT yang dapat menyelamatkan kami. Jangan lupakan kami karena saat ini Anda semua adalah yang kami miliki. Sedekah anda tidak kami terima, dan ketika mereka membuka perbatasan maka sedekah itu hanya diterima segelintir orang saja yang tidak tahu harus berbuat apa karena akan beresiko bagi hidup kami hanya untuk membeli makanan. Mereka akan membunuh siapapun, siapapun apakah dia adalah anak umur lima tahun yang sedang membawa makanan untuk keluarganya. Kami ingin hidup dari keringat kaum laki-laki kami, bukan dari keringat orang lain karena kami sedang sekarat.

Terus lakukan pekerjaan yang Allah perintahkan dan berdoalah untuk kemenangan yang akan segera datang dan menyelamatkan ummah di segala tempat. InshAllah.

Semoga Allah SWT membuat kami teguh dalam din ini, selama masa perjuangan ini dan selama masa kemudahan. Ya Allah, berilah kemenangan kepada kami segera dan segeralah tegakkan kembali Islam sebagai otoritas yang dengannya kami hidup, Ya Allah, kirimlah kepada kami anak-anak Salahudin, bala tentara Islam untuk menyelamatkan ummat Muhammad SAW dari penindasan di mana kita hidup. Ya Allah lindungilah anak-anak kami dan usirlah kaum zionis dari tanah kami. Ya Allah, hari ini saksikanlah pada hari ini kami telah meminta pertanggung jawaban para pemimpin kami, kami berdoa semoga Engkau segera mengembalikan kepada kami seorang pemimpin sejati, seorang Khalifah. Amin. “

إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِّقَوْمٍ عَابِدِينَ

Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (Surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (QS 21:106)

Sumber: Khilafah.Com

——-

1. Norman G. Finkelstein: An Introduction to the Israel-Palestine Conflic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s