Perang Antara si-Kaya dengan si-Miskin di Cina

 

Akhir Oktober lalu, sebuah Volkswagen dengan kecepatan tinggi menabrak dua mahasiswa Hebei University, dan meninggalkan mereka tergeletak dengan genangan darah. Petugas keamanan menangnkap sopir, ketika ia berusaha melarikan diri. Namun, ia menolak untuk meninggalkan mobil. “Silahkan, jika kau berani melawanku,” , ucap si sopir itu.

Korbannya adalah , seorang gadis, anak petani miskin bernama Chen Xiaofeng, dan kemudian meninggal. Sopir Volkswagen adalah Li Qiming, anak wakil kepala polisi di distrik itu. Partai Komunis khawatir, dan berusaha menyensor berita agar tidak di muat di media peristiwa yang terjadi itu. Tapi sebuah komunitas online, marah atas kejadian itu, dan insiden itu berubah menjadi masalah nasional. Tentu, tentang hak istimewa yang dimiliki anak seorang kepala polisi.

“Ayah saya adalah Li Gang”, telah menjadi topik yang luas dikalangan masyarakat, sehingga menimbulkan polarisasi, yang membelah rakyat Cina yang kaya dengan yang miskin.

Sekarang di seluruh China, orang berbicara tentang “Generasi kedua yang kaya,” yang memiliki kekayaan dan mulai hidup dengan makmur, sebagai generasi “resmi kedua”, tetapi ada “Generasi kedua yang miskin”. Semuanya menjadi pembicaraan berbagai media di Cina, dan mengisi blog, di chating-chating, dan bahkan editorial media massa.

Rakyat yang marah mengatakan, banyak anak laki perempuan kader partai yang berubah menjadi pengusaha kaya, yang mempunyai keuntungan yang tidak adil, dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, para pakar memperingatkan akan terjadi ketidakstabilan sosial, sebagai dampak kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin, dan kesenjangan itu semakin melebar.

Pengerasan dari Hirarki’

Dalam dua survei melalui media online secara terpisah tahun 2010 oleh People’s Daily (Harian Rakyat), yang merupakan corong Partai Komunis resmi itu, menunjukkan meningkatnya peringkat kesenjangan yang tumbuh antara kaya dan miskin, sebagai salah satu masalah yang paling mendesak yang dihadapi Cina sekarang ini.

Mereka mengatakan bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi China yang luar biasa, mereka nyaris orang-orang miskin, tidak mengalami perbaikan apapun dalam kehidupan mereka. 44 persen responden mengatakan melebarnya kesenjangan pendapatan per kapita dan “pembagian kelas sosial”, benar-benar menciptakan perbedaan, dan ini membutuhkan perhatian dari pemerintah Cina.

“Apakah Mungkin Cina Menjadi Kaya?”, ucap seorang buruh di Beijing. Nampaknya, setelah krisis keuangan, orang-orang kaya di Cina, bahkan menjadi lebih kaya. Sementara yang miskin bertambah miskin. Hanya orang-orang yang kaya dapat hidup dengan bahagia, dan orang-orang miskin tetap dalam penderitaaannya,” kata seorang responden.

People Daily’s (Harian Rakyat) Cina, melaporkann tentang ketimpangan di Cina, yang semakin melebar antara yang kaya dengan yang miskin. Angkanya terus meningkat rata-rata diatas 0,47 persen. Ini akan membawa situasi ketidakstabilan sosial. Dalam beberapa dekade Cina mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, yang menyebabkan kesenjangan besar dalam masalah upah antara kaya dan miskin, di perkotaan dan pedesaan. Pada tahun 2009, orang terkaya di Cina hanya 10 persen, tapi mengendalikan 45 persen dari kekayaan negara.

Banyak pemuda di Cina yang sekarang ini mengalami kesulitan dalam mobilitas, karena mereka miskin. Sementara yang kaya, orang tuanya berkuasa, tapi tidak mampu membayar sekolah terbaik, mereka menggunakan orang tua mereka dengan koneksi dan hubungan – atau ‘guanxi’ – untuk mendapatkan sekolah dan pekerjaan terbaik.

Di bidang pendidikan, perekrutan, pekerjaan, dan berbagai sektor lainnya, pola kekuasaan-sangat resistensi dan semakin kokoh, yang menolak hak-hak kelas bawah,yang miskin. Selanjutnya, peluang kelas bawah yang miskin itu, dari hari ke hari, secara herarkis untuk melakukan mobilitas ke atas terus mengalami penyempitan “tulis Dai Zhiyong, kolumnis untuk koran Weekend Selatan.

Media pemerintah melaporkan semakin banyak pengguna neting yang menganggap dirinya bagian dari “generasi kedua yang miskin”, dan mengatakan bahwa mereka tidak ingin membebani anak-anak mereka dengan nasib yang mereka mewarisi. Sehingga mereka memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali. “Saya generasi kedua yang miskin, dan saya tidak ingin melahirkan generasi ketiga yang juga miskin,” kata Xiaolei, yang berusia 28 tahun web editor-Beijing, kepada koran China Youth Daily.

Pemerintah juga mengusulkan langkah-langkah kebijakan untuk mempersempit kesenjangan kaya-miskin, termasuk menerapkan mekanisme kenaikan upah, perbaikan sistem upah minimum dan memastikan bahwa upah dibayar secara tepat waktu. Diharapkan untuk meningkatkan gaji petani dan meningkatkan asuransi sosial baik di kota-kota dan desa.

Bulan Maret, Perdana Menteri China Wen Jiabao membahas masalah itu. Dalam pidatonya di Balai Agung Rakyat Cina di Beijing, mengatakan bahwa manfaat ekonomi Cina yang berkembang pesat harus didistribusikan secara lebih adil. Sebagai bagian dari rencana itu, pemerintah bekerja untuk mereformasi sistem registrasi rumah tangga – atau hukou – sehingga para pekerja migran yang tinggal di daerah perkotaan dapat menerima tunjangan pemerintah lebih.

“Kami tidak hanya akan membuat ‘kue’ dari kekayaan sosial yang lebih besar dengan mengembangkan ekonomi, tetapi juga mendistribusikan dengan baik,” kata Wen. “[Kami akan] dengan tegas membalikkan kesenjangan pendapatan melebar”, tambah Wen.

Tapi Hu Xingdou, seorang profesor ekonomi di Beijing Institute of Technology, mengatakan “solusi mendasar” untuk memperbaiki nasib orang miskin adalah untuk memungkinkan para pekerja mendapatkan haknya untuk mengorganisir serikat mereka sendiri – “Membiarkan mereka berbicara apa yang mereka benar-benar inginkan dalam rangka meningkatkan posisi sosial mereka “.

Sementara itu, internet semakin banyak digunakan oleh warga sebagai alat untuk memantau perilaku pejabat tinggi, kata Shao Jian, seorang profesor di Universitas Nanjing Xiaozhuang School of Humaniora.

Dalam kasus Gang Li, tekanan dari netizens menghasilkan permintaan maaf dari kedua ayah dan anak, disiarkan di CCTV, telivisi negara. Media pemerintah kemudian melaporkan bahwa Li Qiming telah ditangkap.

” Shao mengatakan: “Tanpa internet, kita tidak akan tahu apa-apa tentang kasus itu.” Di Cina semakin banyak orang yang kaya, karena adanya ‘booming ekonomi’, tetapi masih banyak yang miskin dan papa, tanpa memiliki apa-apa, dan hidup dipedesaan.

Ternyata di negeri komunis, seperti di Cina, tetap saja ada kesenjangan, rakyatnya tidak hidup dengan sama rata sama rasa, seperti slogan komunis yang selama ini didengung-dengungkan para pemimpin mereka.

China merupakan representasi negeri komunis yang sudah beralih ke kapitalis sehingga sudah ditemukan disana-sini kesenjangan antara si kaya-miskin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s